Kamis, 15 Oktober 2009

CERITA UNTUK CAHAYA

Wanita itu berarti cahaya
Bayangkan jika dunia ini tak ada cahaya.
Begitu gelap dan sempit.
(A*A**.)

Ceritanya, Paska lebaran kemarin aku pergi ke Pantai Carita. Demi memanjakan diri melihat deburan ombak atau lebih tepatnya gadis gadis yang di hempas oleh deburan ombak,lalu merasakan hembusan angin pantainya yang sepos sepoi terdengar di telinga,sembari meminum es kelapa muda dan duduk di tepi pantai,di tengah tengah kesibukan orang orang yang berbondong bondong mencari bantuan untuk korban gempa,yang ter jadi di padang tepat tujuh hari sebelum aku berada di sana.
Pantai Carita itu Letaknya di 30 km arah barat laut dari kota serang. Dan di mana itu serang, bukan tanggung jawab saya untuk memberi tahu. Dan benarkah ke arah barat laut? Dan benarkah 30 km jauhnya? Jujur, aku sekedar sok tahu. Mungkin lebih, mungkin kurang. Data tersebut disampaikan hanya cuma sekedar formalitas belaka sahaja, yang bila dihapus, tidak akan mengurangi maknanya barang sedikit pun.

Serang itu ibukota Provinsi Banten,tentunya. Atau, lebih tepat sejujurnya. Dan memang hanya serang lah yang lebih pantas untuk menjadi ibu kota provinsi.Selain karna memang disanalah tempat aku di lahirkan,alasan tepatnya adalah karna memang serang lah yang berada di titik strategis dalam peta provinsi banten.dan apa bila alasan itu kurang tepat juga,sekali lagi itu bukan tanggung jawab saya.

Namun,sebelum kamu mendengarkan cerita ceritaku.
Pasanglah sabuk pengaman,sayang.
Akan begitu banyak goncangan

Yaaah, di bawah kaki pohon kelapalah kemudian aku sandarkan diri ini,sembari mengisap roko,lalu aku pandangi orang orang yang ada disana. beberapa wanita berlari lari di bibir pantai,kemudian membiarkan celanyanya basah di hempas oleh deburan ombak,ada pula yang hanya sekedar duduk duduk sepertiku,namun bedanya,mereka yang duduk di temani oleh pasanganya yang menyadarkan kepalanya di bahu mereka,sembari menatapkan pandanganya kearah samudara yang luas.

Lalu mataku tertuju pada seorang anak yang tengah begitu asik bermain pasir bersama seorang wanita,dan aku rasa itu pasti ibunya, tidak salah lagi,karna mustahil itu pacarnya.Bibirku tersenyum, melihatnya.Ntah tersenyum sinis atau apa,yang jelas ketika itu aku teringat pada sosok seorang wanita yang dulu sempat aku hidup bersamanya,
bahkan sempat aku merasakan kehangatanya.

Seseorang itu termamatlah cantik,bahkan kata cantikpun rasanya tak cukup untuk menggambarkan kecantikanya.dan andai saja ada kata lain yang lebih dari sekedar kata cantik aku rasa dialah orang yang pertama mendapatkanya.
Ahh,Aku rindu dengan kehadiranya.

Wanita itu adalah ibuku,seseorang yang dulu sempat melahirakan dan merawatku.
Sejenak akupun mengajak diriku untuk kembali menuju masa masa dimana aku,kakaku bahkan kedua orang tuaku masih berlabuh dalam satu haluan,menganut system demokratis dan menjalin semuanya dengan kebersamaan,di bawah atap rumah kamilah dulu kami sandarkan segala permasalahan dan Kepedihan yang selalu datang dan pergi, atau datang dan hinggap untuk mencuri keping demi keping kebahagiaan dalam keluarga kami.

Dulu aku adalah seorang anak lelaki yang nakal dan manja. Apa yang aku inginkan harus aku dapatkan jadi tidak heran jika ketika itu rumah ku penuh dengan mainan mainan yang berserakan,tak jarang karna sikap manja ku waktu itu,akupun sering sekali memecahkan perabotan perabotan rumah tangga yang aku banting dengan sengaja atau aku pukuli dengan palu.Namun meski begitu kehangatan dalam keluarga ku sedikitpun tak pernah berkurang memancar pada diriku,anak laki laki satu satunya waktu itu.

Tak pernah aku tampik bahwa aku memang memiliki sebuah keluaraga yang sangat luar biasa,
Di kelilingi oleh seorang ibu yang sangat menyayangiku,dengan kecantikanya dan kepandaianya dalam memasak ia buat kehangatan tersendiri dalam hati ini.seorang ayah yang selalu membawakan oleh oleh untuku sepulang dari kerajanya,dan seorang kaka perempuan yang selalu mendongenku di kala diriku hendak tidur.

Namun sejenak semua itu sirna,seseorang telah mencuri keping demi keping kebahagian kami,Sehingga saat itu pula aku terdampar dalam daratan yang aku sendiri tak tau, dimana ibuku,ayahku dan kakaku sudah tak kulihat lagi nampak duduk bersama dalam satu meja makan yang biasa kami lakukan di pagi dan malam hari sebelumnya.

Dimana tak kudengar lagi dongeng dongeng yang perlahan membawaku kedalam lelapnya malam.Tak kulihat lagi seorang ibu yang biasanya sibuk mencicipi masakanya karna takut kebanyakan garam.
Tak kulihat lagi seorang ayah memanggil memanggil anaknya dengan bungkusan oleh oleh di tangan kananya.

Semu itu sirna begitu saja,tanpa ku tau sebab dan musababnya.
Aaaah andai waktu itu aku sudah mengerti.
Kuyakin tidak akan begini jadinya.

Kemudian akupun mulai menggulung ujung celana jeansku. Lalu menuju kearah pantai. Sengaja aku membiarkan air laut menjilati kakiku. Dan akupun terus menyusuri pantai. Ku lihat di tempat yang agak terpisah dan sepi, seorang wanita sedang tidur-tiduran di kursi malas. Tubuh yang sensual dengan celana mini sekali, huh! Cantik dan sophisticated. Wanita itu tersenyum.

"Sendirian, aja?" sapa ku.

Wanita itu tersenyum lagi. Lalu terlentang. Posisi tidurnya yang sembarangan jelas-jelas merusak mataku
Akupun terus berjalan saja membuang kegelisahan. Tapi ujung mata ini masih saja mencuri-curi pandang. Sialan! Batinku menggerutu.

Lalu Aku duduk di sebongkah karang. Memikirkan tentang hari hari yang sempat aku lalui, meriwaind kembali peristiwa peristiwa yang pernah ku alami,dan merenungkan tentang perasaan cinta yang sungguh aku tak mengerti,tentang keluargaku yang aku juga tak mengerti,tentang teman teman yang datang dan hinggap setiap saatnya.dan tentunya tentang kulaihku yang ntah sampai kapan aku terus di lewati oleh adik adik kelasku.
Aaaaah semua ini terasa rumit bagiku,tapi angin pantai dan sura deburan ombak waktu itu perlahan menurunkan gejolak hati ini, aku merasa tenang dan damai sekali,lalu kupandangi langit barat yang mulai kekuning-kuningan.Ku keluarkan sebungkus roko di saku celanaku,kuambil satu dan ku hisapnya dalam dalam.

“Sendirian,aja.”wanita yang kulihat tadi,tiba tiba saja duduk disampingku,dengan sebotol minuman di tangan kananya.
Kuhisap lagi roko yang sedari tadi ku pegangi,lalu tersenyum kearahnya.

“Boleh aku minta rokonya”berani sekali ia rupanya
Aku menyodorkan rokokku.lalu Menyalakan Zippo-nya. ia terbatuk-batuk ketika mengisapnya. aku tersenyum lagi melihatnya.

“Namaku alang." Kali ini aku menyodorkan tanganku. Si gadis tersenyum.
"Kamu nggak berenang?"ucapku lagi
“Aku ngga berminat,”
“Terus ngapain dong kepantai,”
“Mau ngapain ke,!!” aku melihat ada kegetiran dimatanya,ketika meliahtnya meneguk minuman yang di bawanya.
“Kamu mau?”Ucapnya menyodorkan minuman.
“Ngga,aku bukan peminum.”
Dia tertawa mendengar jawabanku”ngga mungkin banget,ngga mungkin banget orang kaya kamu bukan peminum.”

"Oh iya,nama kamu tadi siapa?" Sindirku. Si gadis tertawa enak. "Aku Deana," katanya. " Panggil aja dea”
"Sering ke sini de,?"

“Apa?”matanya mulai sayup di pengaruhi alkohol

“Kamu sering ketempat ini.”tanyaku lagi

"Ooh ngga,aku baru kali ini.Ya, cari hiburan aja."mulutnya kembali menghisap roko pemberianku tadi

"Lagi bayak masalah ya?"

"Bukan urusan kamu."
Aku tertawa ngakak. "Soriiiiiiii," kataku.

Si gadis itu meneguk kembali isi botolnya . "Aku punya cerita. Mau denger ngga?"
"Asal jangan cerita horor aja."

Dia melemparkan batu ketengah lautan.”Ceritanya ada sepasang kekasih,”

“Terus!!!!!”

“Mereka berdua sangatlah serasi,mereka saling mencintai satu sama lain,hari harinya mereka habiskan untuk selalu bersama,sulit dibayangkan jika salah satu dari mereka itu pergi.

“Suatu malam mereka merayakan malam mingguanya di puncak,Dengan perasaan bahagia,mereka nikamti malam itu,hingga akhiranya datang lima gerombolan laki laki mendekat kearah mereka,salah satu laki laki itu merayu siwanita,jelas si pacar wanita itu marah di buatnya,tanpa aba aba pukulanpun melasat kearah wajah si pacarnya tadi yang mencoba mengubris mereka,dua orang dari laki laki itu memegangi si wanita,dan sisanya memukuli pacar nya tersebut,hingga akhirnya pacarnyapun oleng di butanya,darahnya bercucuran,namun merka masih saja menginjakinya”

Dea meneteskan air matanya,wajahnya menengadah ke langit.

Aku mendengarkanya saja sedari tadi,kini ia terdiam,matanya menggambarkan penuh dengan emosi.

“Lalu bagaimana dengan si wanita?”Ucapku

Dea memejamkan matanya. Dia seperti melihat jelas kejadian itu.

"Si wanita itu hanya bisa mengis,kedua laki laki itu masih saja memeganginya,hingga kamu tau apa yang terjadi??mereka berlima bergiliran memperkosa si perempuan itu,di hadapan pacarnya tadi,mereka lalukan kejadian bejad itu,pacaranya hanya bisa menetesakan air mata saja,tanpa bisa berbuat apa apa,seluruh badannya telah habis di pukuli gerombolan itu.sehingga ia hanya meraung kesakitan menyaksikan perbuatan bejad itu,Lang.”

“Aku nggak nyangka kalau semuanya akan menjadi seperti ini.
"pacarku meniggal,Lang," Dea menangis.

"Oh, God! Kenapa ini musti terjadi?” Dia mengusap wajahnya. Menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Dipandanginya langit barat yang mulai gelap. “Aku kotor, Lang! masa depanku sudah hancur,aku sudah tak punya harapan Lagi, Aku rasa, lebih baik mati ketimbang begini."

Aku bisa menangkap kalimat yang mengalir tersendat-sendat dari teman baruku ini. Begitu putus asa. Seolah-olah tubuhnya adalah sesuatu yang hina.

“Lantas dengan cara seperti ini,kamu membalas semuanya!!”
Dea hanya diam saja.

"Kamu mau mendengar ceritaku,De?"
Dea masih diam saja. Memejamkan matanya.

"Oke, aku cerita saja. Terserah kamu mau mendengarkan atau tidak.”kemudian aku menyulut rokoku lagi.

"Sebelumnya perkenalkan,aku adalah mahasiswa di universitas swasta di bandung,disana aku punya teman. Dede namanya, ngga Ganteng, ngga pinter, ngga jujur, dan ngga kreatif,orangnya. Kami satu kampus. Kami sudah diibaratkan tidur seranjang, makan sepiring. dan minum segelas. Apa yang dia punya, juga punyaku. Begitu sebaliknya.

"Dia adalah inspirasi bagiku,gayanya yang tengil namun terkadang bijak membuat arti tersendiri bagi yang mengenalnya,namun wanita adalah kelemahannya,beberapa kali ia merasa prustasi karna wanita,setiap wanita yang ia sukai,selalu saja ada laki-laki yang langsung membawanya pergi,sehingga ia selalu merasa bahwa tuhan tak pernah adil,tak pernah memberikanya kebahagiaan,tak pernah mengijinkanya sedikit merasakan kehangatan kasih sayang seorang wanita,dia sempat bercerita bahwa dari umur 5 tahunpun ia sudah di tinggal pergi ibunya,satu satunya mahluk yang di bawah telapak kakinya surga di sandarkan.”

"Kenapa ibu temanmu,Lang,dia meninggal?" Nyatanya Dea sudah melupakan nasibnya sendiri-untuk sementara,

“Tidak,melainkan orang tuanya bercerai,ibu dan kaka perempuanya meninggalkanya saat itu,dari kecil dia hidup bersama bapanya,itulah sebabnya ia merasa tuhan tak pernah adil,karna selalu saja lelaki yang mendengarkan cerita ceritanya,selalu saja lelaki yang mendengarkan tentang keluhanya,selalu saja lelaki yang mewarnai hidupnya,baginya wanita hanya ada dibalik tulisan-tulisan yang ia buat sendiri,sedangkan akupun butuh kasih sayang yang nyata dari seorang wanita,begitulah ia selalu bilang padaku.”

‘Terus”Ucapnya penasaran

“Karna itu lah hidupnya ia habiskan dengan alam,bepergian,kemana yang ia suka,dan menikmati keindahanya,samapai sekarang ia masih suka lakukan itu, suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita yang membuat ia terkagum melihatnya,wajahnya cantik,teramat cantik bahkan,namun bukan itu iya banggakan,kepintaranya dan kerajinannya dalam ibadahlah yang membuatnya jatuh cinta.”
Sampai di sini aku berhenti. Menyulut rokoku lagi yang kesekian.

“Terus,lang!”sedikit wajahnya itu berangsur indah

“Kali ini cintanya terbalaskan.gadis itulah yang membuat hari harinya bermakana,ia menjadi rajin dalam segala hal,mendadak ia menjadi orang yang paling baik yang aku kenal,ibadahnya semakin rajin,tulisan tulisannyapun semakin kreatif,dan semangat hidupnya yang menggejolak.membuat pengaruh besar buat hidupku.

“Sampai suatu ketika,wanita itu meninggalkanya tanpa alasan, Pesonanya yang ia tebar, kisah-kisah yang ia ceritakan, serta mimpi-mimpinya yang ia bagi padanya
tiba-tiba saja dihentikannya,semua itu tanpa aba-aba terlebih dahulu.wanita itu menikah dengan orang lain!,”

Aku menghela napas sejenak
“Rasanya lebih baik meliahnya mati di depan mata,dari pada harus melihatnya menikah dengan orang lain.itulah yang kemudian selalu ia katakan padaku.”

“Lantas,bagaimana nasib temanmu,Lang,??”

"Aku nggak bisa mencegahnya ketika dia masuk kedalam dunia sepertimu?”

“Maksud kamu?”

“Yaah kaya kamu,hari harinya Cuma ia habiskan bersama alkohol,kuliahnyapun berantakan,dan ia menjadi orang yang paling ia benci di dunia,dia hanya bisa menyalahkan takdir,tanpa pernah mau melihat kedepan,

“Temanku tak pernah sadar kalau wanita itu bukan hanya dia,padahal masih ada milyaran yang tengah menunggu dan siap menerima kita apa adanya!!”sedikit aku beri penegasan pada kalimat akhir untuk sekedar menyindirnya.

“Betul,tidak??”aku tersenyum melihatnya,ternyata sedari tadi dia memperhatikanku dengan seksama.

“Sekian lamanya dia mengalami keterpurukan,hanya karna wanita,tubuhnya sengaja ia kotori dengan barang barang haram,sunguh sangat di sayangkan hidup ini.”

“Sekarang kamu masih sama teman kamu itu” Dea menggigit bibirnya

“Iyah,namun sekarang dia pindah kuliah,ia mendaftar kembali menjadi mahasiswa baru di universitas swasta juga disana, ia mencoba untuk merangkak dan merangkai kembali arah arah yang akan dia tempuh.. tak disangka di kampus barunya itu kini ia menemukan cahanya,

“Cahaya yang benar benar luar biasa,cahaya itu mampu membuat temanku itu kembali merasakan jatuh cinta,tak jarang aku melihat temanku itu tersenym sendiri dibuatnya.
Lagi lagi dea tersenyum mendengar ceritaku
“Tapi kamu tau apa yang di lakukan cahaya itu???cahaya itu menjauh ketika temanku itu hendak mencuri sinarnya,persoalanpun kembali datang.!!”

“Aku,udah bisa nebak Ending ceritanya”tiba tiba saja ia memotong.
“Temanmu itu prustasi dan sekarang dia telah mati,lalu kamu meratapinya disini,iya kan?”
“Emangnya kamu,sampe mau mati segala”Aku tersenyum menyindirnya
“Aku minta rokonya lagi dooong!!”Dea salah tingkah,kali ini ia mulai menampakan keceriaanya.
“Kamu tau temanku yang malang itu ada dimana sekarang”Aku menatap matanya
Mata gadis itu mencari kestiap arah,
“Di ada di depanmu,,bodoh!!.”aku sengaja memanggilnya bodoh untuk mencairakan suasana.
“jadi itu kamu!!”Dea tertawa lepas kali ini,aku pun tersenyum menimpalinya
“Yuup,aku baik baik aja sekarang.bagaimana dengan kamu??”
Dia malah tersenyum,lalu ku ambil botol yang ada disampingnya itu dan ku lempar kelaut.
“Aku yakin kamu pasti dapat penggantinya!!”
“Aku juga yakin kamu pasti dapat cahaya yang lebih besar dari itu.”dia mencoba menyemangatiku.lalu kami bangkit dan berbalik meniggalkan tempat itu,

Kami berjalan menyusuri pantai di saat matahari hampir menggelincir di ufuk timur. Sambil menyusuri pantai,kami saling memperkenalkan diri kembali. Memulai lagi dari awal dengan basa-basi setiap perkenalan. Misalnya, rumahnya di mana? Kuliah? jurusan apa? Selayaknyalah begitu kalau sesama remaja. Sering-seringlah kita punya kawan baru tanpa perlu menaruh prasangka buruk dulu. Pergaulan itu tidak ada ruginya. Dengan bergaul kita bisa mempelajari karakter seseorang dan bisa banyak belajar dari obrolan-obrolan itu sendiri. Jadilah seorang ekstrovert kalau ingin bertahan hidup di zaman edan seperti sekarang ini. Hanya waspadalah. Ambil yang baik dan buang yang jeleknya, begitu kata orangtua atau guru-guru.

Sekarang lepaskan sabuk pengamanmu,sayang.
Ceritanya telah usai.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

suka alinea terakhirnya...

perjalanan hidup seseorg memang sungguh mistery, kehidupan adalah barisan ketidak pastian. Tapi tak ada kejadian seburuk apapun yg tidak meninggalkan hikmah bagi kita jika kita bisa menemukan mutiara hikmahnya.

tetaplah menyandarkan segala keluh dan mengantungkan harap pada pemilik kehidupan ini.

tetap semangat alang...:)


* irma senja ^_^